Jumat, 23 April 2010

Mas Fuad Punggawa Pustu Tempelrejo


Sejak 1 Januari 2008 bertugas di Pustu Tempelrejo tanpa ditemani siapapun dan selalu siap membantu warga Mondokan di wilayah Desa Trombol dan Tempelrejo. Dia berkisah tentang suka duka mengabdi di Pustu Tempelrejo. Rasa damai, tenang dan banyak saudara merupakan pengalaman suka yang dialaminya. Selain telah mendapatkan calon pendamping hidup yang bertugas di Desa Trombol tentu saja sangat membanggakan karena sebentar lagi Pemerintah Kabupaten Sragen akan membangunkan sebuah Puskesmas Pembantu di Dukuh Ngrungkap Desa Tempelrejo yang akan segera menjadi kantornya.
Perasaan duka karena harus menjaga kebersihan Pustu sebagai contoh tentang kebersihan bagi masyarakat. Tugas ini harus dikerjakan sendiri tidak ada yang membantu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat segera akan ada yang membantunya. Selamat ya Mas Fuad tahun ini sudah mendapat amanah sebagai CPNS Kabupaten Sragen. Pertahankan terus etos kerja dan idealisme untuk mengabdi kepada masyarakat. Semoga selalu mendapatkan kesuksesan bersama calonnya.
(Wawancara dengan Sang Punggawa)

KISAH SANG PENABUR ASAP


Mas Mulyono sang penabur asap di suatu pagi berkisah tentang perjalanan hidupnya memburu residivis DB, sang Aedes aigepty di Mondokan. Pekerjaan yang telah ditekuni sejak tahun 2008, diawali rasa penasaran terhadap tingginya kejadian DB sedangkan belum semua puskesmas memiliki fasilitas alat fogging saat itu.
Kisah diawali perasaan suka manakala bertugas banyak mendapatkan kenalan sehingga menambah sahabat. Dukanya karena harus bangun pagi-pagi mendahului sang Aedes aegepty. Terkadang kelopak mata masih tidak mau diajak kerjasama, Sang Pemburu harus menyiapkan perlengkapan perangnya. Sering pula terbayang bagaimana bahaya peluru asap yang tidak lain sejenis insektisida, tentu saja dapat memberikan efek samping suatu saat nanti. Tetapi harapannya masyarakat semakin lama akan semakin paham dan lebih memilih upaya pencegahan sehingga tugas pemburu nyawa sang Aedes aegepty tidak lagi membayang-bayangi tidurnya.
Sepenggal kisah mengharukan seorang pemburu yang sering terkenang saat-saat harus mencabut nyawa buruannya perlu kita renungkan bersama. Semoga ironi ini tidak terus berulang manakala masyarakat kita lebih memahami makna kata pencegahan terhadap wabah DB. Semoga harapan Sang Pemburu bisa terpenuhi.
(Hasil wawancara dengan Sang Pemburu)

Jumat, 26 Maret 2010

PNPM Solusi Kesehatan Masyarakat

"Upaya pemberdayaan masyarakat melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di Bumi Sukowati membuahkan hasil. Realisasi program PNPM sejak beberapa tahun lalu dinilai efektif untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Sragen" Penegasan itu disampaikan Bupati Sragen Untung Wiyono kepada Espos, Kamis (25/3), di Dayu Park Sragen terkait penghargaan untuk kinerja PNPM terbaik tingkat nasional dari Presiden yang diterima Sragen. (Solopos)
Peran PNPM dalam pemberdayaan masyarakat khususnya di Kabupaten Sragen sampai saat ini memang harus diakui.
Dalam bidang kesehatan selama dua tahun belakangan kegiatan PNPM telah memberikan peranan yang sangat berarti mengingat keterbatasan institusi kesehatan bila harus mengatasi permasalahan kesehatan sendirian.
Walaupun kegiatan Desa Siaga telah berlangsung selama beberapa tahun tetapi konsepnya belum dapat berjalan akibat terhambat oleh solusi maupun rencana tindak lanjut yang seringkali tidak feasible (tidak mungkin dilakukan). Beberapa pemecahan yang disimpulkan dalam MMD memang sebagian besar berkaitan dengan kemampuan sumber dana. Semisal untuk meningkatkan cakupan kunjungan balita 8 kali dalam setahun, keberadaan posyandu tidak cukup sebatas kegiatan penimbangan berat badan. Demikian halnya kegiatan Gerakan Sayang Ibu (GSI) tidak efektif bila ibu hamil yang hadir sedikit karena kegiatan sudah dilakukan oleh bidan di masing-masing praktek swasta.
Harus ada suatu daya tarik kegiatan sehingga cakupan kepesertaan dalam kegiatan bisa maksimal.
Upaya meningkatkan cakupan tersebut umumnya berkaitan dengan dana. Suatu ironi dalam setiap perencanaan pembangunan baik di tingkat desa sampai kabupaten ternyata penganggaran untuk sektor kesehatan sangatlah timpang dengan estimasi masyarakat terhadap peran kesehatan. Pada satu sisi masyarakat mempertanyakan kinerja sektor kesehatan tetapi di sisi lain potensi pendanaan bagi sektor kesehatan sangatlah minim. Sebagai contoh untuk kegiatan pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita terkait program gizi untuk mencegah kurang gizi. Anggaran yang disiapkan oleh desa secara mandiri dalam APBDesa bisa diperkirakan hanya menyangkut hal-hal umum seperti pembangunan fisik gedung bahkan terkadang tidak dianggarkan sama sekali.
Prasangka yang tumbuh akibat persepsi stakeholder yang salah bahwa kesehatan adalah tanggung jawab Dinas Kesehatan cq. Puskesmas perlu diluruskan. Amanah yang diemban seorang pemimpin dalam mensejahterakan rakyat yang dipimpin tidak lepas dari kesejahteraan di bidang kesehatan. Sehingga sangat perlu dipertanyakan seorang pemimpin yang tidak peduli dengan kesehatan warganya. Apakah dia seorang pemimpin yang amanah?
Kembali pada PNPM, saat ini banyak membantu kegiatan masyarakat yang bersifat pemberdayaan masyarakat. Dana hibah bagi sektor kesehatan semestinya dimanfaatkan oleh seorang pemimpin untuk menggerakkan pembangunan kesehatan di wilayahnya.
Adalah sesuatu yang aneh bila pemimpin di suatu komunitas menolak dana PNPM hanya karena persepsi yang salah apalagi prasangka terhadap pemanfaatannya.
Saat ini pengawasan tidak hanya oleh pengawasan birokrasi. Bahkan masyarakat melalui LSM turut mengawasi. Mari kita hilangkan prasangka itu. Buktikan sebagai pemimpin kita cukup amanah untuk mensejahterakan masyarakat kita dalam bidang kesehatan.
Manfaatkan PNPM untuk meningkatkan kemandirian masyarakat menuju masyarakat Indonesia yang Adil dan Sejahtera.

Jumat, 22 Januari 2010

Menonton Televisi Menghambat Perkembangan Bicara dan Bahasa Anak?


Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, terjadi beberapa perubahan pada gaya hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam metoda pengasuhan anak. Tak ayal karena jadwal kesibukan cukup padat, orangtua dewasa ini lebih senang membiarkan anaknya menonton televisi untuk melengkapi kebutuhan edukasi sekaligus hiburan sang anak agar para orangtua dapat memperoleh lebih banyak waktu untuk bekerja dan beristirahat.
Dengan banyaknya program acara atau video yang dapat dipilih, tentu tidak sulit untuk membuat anak cepat “diam” karena terpaku menonton acara kesayangannya, sambil berharap bahwa anak mereka akan berkembang dengan sendirinya karena mendapat cukup stimulasi dari acara tersebut.

Akan tetapi, apakah menonton televisi benar-benar dapat efektif membantu meningkatkan perkembangan bicara anak?

Sebuah studi yang dilakukan oleh dr. Dimitri A. Christakis serta Frederick J. Zimmerman dari Seattle Children’s Research Institute, University of Washington, AS menunjukkan bahwa vokalisasi, kosakata, dan percakapan yang dilakukan oleh pendamping anak (orangtua, pengasuh) berkurang secara bermakna selama ia menonton televisi.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa anak-anak 8 – 16 bulan yang menonton video-video “edukasi” tersebut selama 1 jam setiap hari memiliki penurunan 6 – 8 kosa kata dibandingkan dengan anak-anak yang tidak menonton.

Studi tersebut dilakukan pada 329 anak berusia antara 2 bulan hingga 4 tahun yang masing-masing menggunakan alat perekam digital kecil pada hari-hari tertentu yang dipilih secara acak setiap bulannya selama 2 tahun. Sebuah rompi didesain khusus dengan saku dada tempat menempelkan alat perekam yang akan menangkap setiap kata yang diucapkan maupun didengarkan oleh anak selama periode 12-16 jam. Yang menjadi parameter dalam studi ini antara lain adalah jumlah kata yang diucapkan oleh pendamping anak, vokalisasi anak, dan interaksi verbal anak dalam percakapan (suatu keadaan di mana pendamping memberikan respon vokal terhadap vokalisasi anak, atau sebaliknya, dalam 5 detik).

Ternyata terdapat pengurangan jumlah dan lama vokalisasi anak, serta interaksi dalam percakapan secara bermakna (jumlah kata dapat berkurang sekitar 770 dari 1000 kata yang seharusnya didengar anak dari pendampingnya selama sesi rekaman). Hal ini penting untuk diperhatikan mengingat stimulasi merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung perkembangan anak. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin secara bertahap dan terus menerus pada setiap kesempatan.

Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan keterlambatan pada perkembangan anak bahkan gangguan yang menetap. Terkait hal ini, Christakis juga menambahkan dalam studinya bahwa bahasa merupakan komponen penting yang diperlukan untuk perkembangan otak pada awal masa kanak.

Karena keterlambatan perkembangan bahasa akan membawa sebab keterlambatan pada tingkat atensi dan perkembangan kognitif pada anak selanjutnya.

Disney’s Baby Einstein Program

Sementara ketika penelitian tersebut dimuat dalam jurnal prestisius Pediatrics, salah satu CEO Disney, Robert Iger, menuntut para peneliti untuk menarik pengumuman persnya. Terkait pembentukan opini publik terhadap program acara Disney’s Baby Einstein yang terlampau membuat bayi-bayi tidak aktif berbicara selama program mereka diputar di televisi. Karena tendensi dari hasil penelitian tersebut dirasa ‘menyerang’ keberlangsungan Baby Einstein.

Namun sekarang setelah penelitian terbukti, Disney justru menawarkan dana kompensasi pengganti bagi orang tua yang telah membeli DVD-DVD program edukasi Baby Einstein.

Saran Dari Penelitian
Bagaimana orang tua harus menyikapi hal ini? Mungkin ada baiknya mendengar saran American Academy of Pediatrics yang mengatakan sebaiknya anak badut (bawah dua tahun) tidak diajak menonton TV. Dengan menonton TV, tentunya anak tidak mendapatkan pengalaman linguistik yang sama seperti ketika berinteraksi langsung dengan orangtua mereka. Alih-alih aktif bereksperimen, anak justru pasif, asyik menatap layar kaca. Hal ini tentunya berpengaruh pada pengembangan kreativitas anak. Karena itu, singkirkanlah remote control DVD Anda, dan ajaklah anak Anda bermain bersama.

Berangkat dari hasil studi tersebut, terdapat beberapa tips yang direkomendasikan oleh Christakis bagi orangtua dan para pengasuh, yaitu:

Untuk anak berusia di bawah 2 tahun:

  • Hindari kebiasaan menonton televisi, dan pilihlah aktivitas yang dapat membantu perkembangan bahasa dan pertumbuhan otak anak seperti berbicara, membaca, menyanyi, bermain, mendengarkan musik, dsb.

Untuk anak berusia di atas 2 tahun:

  • Jauhkan televisi dari kamar tidur anak Anda.
  • Batasi penggunaan televisi maksimal 2 jam dalam sehari.
  • Jika Anda memperbolehkan anak Anda menonton, pilihlah program yang sesuai dengan usianya. Berhati-hatilah dengan tontonan anak Anda. Bahkan film kartun untuk anak saja dapat menunjukkan perilaku yang kasar dan tidak patut ditiru. Untuk itu, dampingilah anak Anda selama menonton sambil membicarakan mengenai acara yang sedang ditonton.
  • Matikan televisi saat makan, dan saat program yang dipilih telah berakhir.
  • Jangan pernah menggunakan televisi sebagai imbalan atas apa yang telah dilakukan oleh anak Anda.
  • Buatlah hari bebas media dan rencanakan sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan bersama anak Anda.
Bagaimanapun, setiap orangtua bertanggung jawab atas pertumbuhan dan perkembangan anak mereka. Untuk itu, mereka harus lebih kritis dan cermat dalam menentukan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Memang, tidak mudah rasanya untuk merubah kebiasaan yang telah berakar dalam keluarga. Akan tetapi terkadang diperlukan sebuah keberanian dan tekad untuk sebuah perubahan demi masa depan yang lebih baik. (Klikdokter.com)

Rabu, 13 Januari 2010

Alih Tugas


Setelah menunggu sekian lama, kepastian itu datang. Bapak kita, dr. Wahju Kurniawan, M.Kes., dipercaya mengemban tugas baru selaku Kepala UPTD Puskesmas Plupuh 2. Sedangkan dr. Yoesi serta dr. Agus alih tugas masing-masing ke Puskesmas Sumberlawang dan Puskesmas Gesi. Sebagai pelaksana tugas Kepala UPTD Puskesmas Mondokan dipercayakan kepada Ibu dr. Rita Ernawati yang sebelumnya bertugas di Puskesmas Sumberlawang.
Surat penunjukan alih tugas kepada rekan-rekan kita telah diterimakan sehingga terhitung minggu ini sudah harus segera melaksanakan tugas di tempat yang baru.
Selamat bertugas kami ucapkan kepada rekan-rekan kami tercinta semoga sukses selalu serta selamat datang Ibu kami, selamat mengemban tugas di rumah kita.

Selasa, 05 Januari 2010

Penyakit Radang Sendi


Datang seorang nenek usia 60 tahun ke ruang periksa Poli Umum Puskesmas Mondokan. Dengan langkah terseret menahan nyeri sang nenek berusaha memasuki ruang periksa dibantu cucunya yang masih remaja. "Kulo mboten saget shollat pun pinten-pinten dinten Pak Dokter...saben kulo ngge nekuk dengkul kulo sakit mboten kantenan ngantos kulo nangis. Kulo meniko tiang mboten gadah nyuwun tombe king Pak Dokter kajenge saget mantun kados kriin"
Bahasa yang sama atau setidaknya serupa hampir selalu disampaikan pasien pada saat datang berkunjung ke poli umum puskesmas untuk menyatakan keluhan tentang sendi mereka.
Penyakit radang sendi secara umum ditandai dengan keluhan nyeri pada sendi khususnya penahan beban aktivitas pasien. Biasanya sendi yang mengalami nyeri telah mengalami peradangan sebelumnya dan memiliki riwayat trauma baik itu jatuh, terpeleset atau akibat tindakan pemijatan.
Pil-pil yang diberikan kepada pasien pada dasarnya bisa mengurangi rasa sakit tetapi yang lebih penting adalah edukasi kepada pasien agar tidak memperberat beban sendi tersebut maupun proses peradangan yang sudah terjadi. Kesalahan dalam pemberian informasi sering kali mengakibatkan pasien menjadi kurang percaya terapi oleh petugas kesehatan dan bahkan mengakibatkan mereka melakukan upaya kontraproduktif. Misalnya mengkonsumsi jamu atau pil rematik asam urat, pijat atau bahkan mengira sakit akibat terkena santet.
Berkaca dari hal tersebut, maka rasanya perlu kita mengingatkan dan menyarankan kepada petugas kesehatan untuk selalu mengingat pemberian edukasi/pendidikan kesehatan mengenai setiap penyakit kepada klien kita.
Informasi tentang penyakit radang sendi akan kami lengkapi pada entri lain di masa depan. Viva promosi kesehatan.

Waspada Penyakit Musiman (DBD & Chikungunya)


Merebaknya kembali kasus penyakit pancaroba di Kecamatan Mondokan, memerlukan perhatian seluruh elemen masyarakat. Penyakit Demam Berdarah Dengue dan Chikungunya yang datang menurut siklus pergantian musim kemarau menuju hujan kembali mengintip kewaspadaan kita.
Upaya mengendalikan keberadaan vektor penyakit telah dilakukan petugas Puskesmas Mondokan melalui kegiatan rutin hari Jumat yaitu PSN dan abatisasi selektif serta kegiatan kuratif fogging di beberapa tempat terjadinya kasus.
Melihat perkembangan kasus yang meluas dan meningkat frekuensinya perlu dilakukan langkah aktif masyarakat mencegah masuknya virus yang dibawa oleh vektor nyamuk Aides aegepty dan Aides albopictus. Penyuluhan kepada elemen masyarakat secara terus menerus baik melalui media massal (penyuluhan keliling, penyuluhan di tempat ibadah maupun pertemuan warga) serta penyuluhan perorangan di sarana pelayanan kesehatan terutama mengenai upaya pencegahan masuknya virus telah dilaksanakan. beberapa cara yang disarankan antara lain penggunaan kelambu, zat penolak serangga maupun pembatasan aktivitas pada waktu tertentu di wilayah yang terkena kasus diharapkan dapat menurunkan kasus DBD dan Chikungunya.
Tentu saja tidak melupakan upaya promotif dengan mengajak masyarakat meningkatkan daya tahan tubuh menghadapi perubahan cuaca, baik mengkonsumsi makanan seimbang, memenuhi waktu istirahat serta olah raga yang cukup.
Berbagai langkah yang telah dilakukan bersama masyarakat semoga dapat menurunkan frekuensi kasus penyakit virus di musim pancaroba ini.