Selasa, 05 Januari 2010

Penyakit Radang Sendi


Datang seorang nenek usia 60 tahun ke ruang periksa Poli Umum Puskesmas Mondokan. Dengan langkah terseret menahan nyeri sang nenek berusaha memasuki ruang periksa dibantu cucunya yang masih remaja. "Kulo mboten saget shollat pun pinten-pinten dinten Pak Dokter...saben kulo ngge nekuk dengkul kulo sakit mboten kantenan ngantos kulo nangis. Kulo meniko tiang mboten gadah nyuwun tombe king Pak Dokter kajenge saget mantun kados kriin"
Bahasa yang sama atau setidaknya serupa hampir selalu disampaikan pasien pada saat datang berkunjung ke poli umum puskesmas untuk menyatakan keluhan tentang sendi mereka.
Penyakit radang sendi secara umum ditandai dengan keluhan nyeri pada sendi khususnya penahan beban aktivitas pasien. Biasanya sendi yang mengalami nyeri telah mengalami peradangan sebelumnya dan memiliki riwayat trauma baik itu jatuh, terpeleset atau akibat tindakan pemijatan.
Pil-pil yang diberikan kepada pasien pada dasarnya bisa mengurangi rasa sakit tetapi yang lebih penting adalah edukasi kepada pasien agar tidak memperberat beban sendi tersebut maupun proses peradangan yang sudah terjadi. Kesalahan dalam pemberian informasi sering kali mengakibatkan pasien menjadi kurang percaya terapi oleh petugas kesehatan dan bahkan mengakibatkan mereka melakukan upaya kontraproduktif. Misalnya mengkonsumsi jamu atau pil rematik asam urat, pijat atau bahkan mengira sakit akibat terkena santet.
Berkaca dari hal tersebut, maka rasanya perlu kita mengingatkan dan menyarankan kepada petugas kesehatan untuk selalu mengingat pemberian edukasi/pendidikan kesehatan mengenai setiap penyakit kepada klien kita.
Informasi tentang penyakit radang sendi akan kami lengkapi pada entri lain di masa depan. Viva promosi kesehatan.