Jumat, 23 April 2010

KISAH SANG PENABUR ASAP


Mas Mulyono sang penabur asap di suatu pagi berkisah tentang perjalanan hidupnya memburu residivis DB, sang Aedes aigepty di Mondokan. Pekerjaan yang telah ditekuni sejak tahun 2008, diawali rasa penasaran terhadap tingginya kejadian DB sedangkan belum semua puskesmas memiliki fasilitas alat fogging saat itu.
Kisah diawali perasaan suka manakala bertugas banyak mendapatkan kenalan sehingga menambah sahabat. Dukanya karena harus bangun pagi-pagi mendahului sang Aedes aegepty. Terkadang kelopak mata masih tidak mau diajak kerjasama, Sang Pemburu harus menyiapkan perlengkapan perangnya. Sering pula terbayang bagaimana bahaya peluru asap yang tidak lain sejenis insektisida, tentu saja dapat memberikan efek samping suatu saat nanti. Tetapi harapannya masyarakat semakin lama akan semakin paham dan lebih memilih upaya pencegahan sehingga tugas pemburu nyawa sang Aedes aegepty tidak lagi membayang-bayangi tidurnya.
Sepenggal kisah mengharukan seorang pemburu yang sering terkenang saat-saat harus mencabut nyawa buruannya perlu kita renungkan bersama. Semoga ironi ini tidak terus berulang manakala masyarakat kita lebih memahami makna kata pencegahan terhadap wabah DB. Semoga harapan Sang Pemburu bisa terpenuhi.
(Hasil wawancara dengan Sang Pemburu)